Fenomena sound horeg yang kian marak di berbagai daerah di Indonesia kembali memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat, khususnya di dunia maya. Tren penggunaan sistem pengeras suara berukuran raksasa dengan dentuman bass yang ekstrem ini sering kali dielu-elukan oleh para penggemarnya sebagai bentuk hiburan rakyat yang meriah. Namun, di sisi lain, praktik tersebut menuai gelombang kritik tajam dari warganet karena dinilai kerap meresahkan warga sekitar, merusak fasilitas umum, hingga memicu konflik sosial yang merugikan banyak pihak.
1. Asal-Usul dan Daya Tarik Budaya Sound Horeg di Kalangan Penggemar
Tren sound horeg pertama kali populer di wilayah Jawa Timur, khususnya daerah Malang dan Kediri, sebelum akhirnya menyebar luas ke berbagai daerah lain di Nusantara. Istilah “horeg” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti bergetar hebat, menggambarkan kekuatan suara bass yang mampu membuat tanah, dinding rumah, hingga kaca jendela ikut bergetar. Bagi para pendukungnya, sound horeg dianggap sebagai inovasi hiburan modern yang memadukan kecintaan masyarakat terhadap musik dangdut koplo, remix, dan karnaval tradisional. Karnaval yang menghadirkan truk-truk besar bermuatan sound system raksasa ini selalu berhasil menarik ribuan penonton, menghidupkan suasana hajatan atau perayaan hari besar, serta memberikan panggung ekonomi bagi para penyedia jasa audio dan pedagang kaki lima di sekitar lokasi acara.
2. Deretan Dampak Negatif dan Kerusakan Fasilitas Umum yang Dikeluhkan Warga
Di balik kemeriahan yang dirasakan oleh para penikmatnya, kehadiran sound horeg menyimpan segudang polemik yang merugikan warga yang tinggal di jalur lintasan karnaval. Getaran suara yang melampaui batas kewajaran terbukti secara nyata telah menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan rumah warga, mulai dari genteng yang bergeser, dinding retak, hingga kaca jendela yang pecah akibat tekanan suara berfrekuensi rendah. Selain itu, banyak fasilitas umum seperti kabel listrik, rambu lalu lintas, hingga tanaman hias pinggir jalan yang menjadi korban tersangkut atau rusak akibat ukuran truk pengangkut sound yang terlalu besar dan melebihi standar dimensi jalan kampung. Kondisi ini tentu memicu kemerahan warga setempat yang harus menanggung kerugian materiil secara mandiri tanpa adanya ganti rugi yang jelas dari pihak penyelenggara.
3. Ancaman Serius bagi Kesehatan Fisik dan Mental Masyarakat Sekitar
Dampak paling mengkhawatirkan dari fenomena sound horeg adalah ancaman nyata terhadap kesehatan manusia, baik secara fisik maupun psikologis. Paparan tingkat kebisingan yang sangat ekstrem dalam durasi yang lama dapat menyebabkan kerusakan permanen pada pendengaran, mulai dari penurunan fungsi indra pendengaran hingga risiko tuli mendadak bagi warga lanjut usia, bayi, dan anak kecil. Tidak sedikit pula laporan mengenai warga yang mengalami gangguan kecemasan, serangan panik, hingga stres berat akibat dentuman bass bertalu-talu yang berlangsung selama berjam-jam tanpa henti, bahkan hingga larut malam. Situasi ini menunjukkan bahwa hak dasar masyarakat untuk mendapatkan ketenangan dan istirahat yang layak sering kali diabaikan demi memuaskan ego hiburan sesaat dari sekelompok orang.
4. Benturan Sosial di Lapangan dan Lemahnya Penegakan Regulasi Hukum
Polemik sound horeg sering kali berujung pada ketegangan sosial dan gesekan langsung antara warga setempat dengan panitia penyelenggara atau para simpatisan. Warga yang mencoba menegur atau meminta agar volume suara diturunkan kerap kali menghadapi intimidasi, perundungan di media sosial, hingga ancaman kekerasan dari massa yang tersulut emosi. Lemahnya regulasi dari pemerintah daerah serta lambannya tindakan preventif dari aparat penegak hukum membuat praktik ini seperti dibiarkan tumbuh subur tanpa batas. Aturan mengenai batas ambang kebisingan di ruang publik seolah mandul di hadapan massa sound horeg, sehingga masyarakat kecil yang merasa dirugikan sering kali merasa tidak memiliki tempat untuk mengadu dan mencari keadilan.
5. Perdebatan Sengit di Media Sosial Antara Kubu Hiburan dan Kubu Empati
Media sosial kini menjelma menjadi medan pertempuran opini publik yang mempertemukan dua kubu dengan pandangan yang saling bertolak belakang. Kubu pembela sound horeg berargumen bahwa kegiatan tersebut adalah bagian dari kreativitas lokal, sarana berekspresi anak muda, dan hiburan musiman yang tidak boleh dikekang atas nama modernitas yang kaku. Sebaliknya, kubu kontra yang didominasi oleh warganet yang memiliki empati terhadap korban menilai bahwa hobi tersebut sudah sangat egois, norak, dan tidak beradab karena merampas hak kenyamanan orang banyak. Perdebatan ini terus bergulir panas setiap kali video aksi sound horeg merusak rumah atau mengganggu mobil ambulans yang sedang melintas viral di platform digital seperti TikTok, Instagram, dan X.
Kesimpulannya, fenomena sound horeg mencerminkan dilema antara kebebasan berekspresi budaya lokal dan kewajiban menjaga ketertiban serta hak-hak dasar masyarakat umum. Pemerintah daerah dan aparat keamanan dituntut untuk segera hadir dengan aturan yang tegas, terukur, dan adil agar kegiatan hiburan rakyat tetap bisa berjalan tanpa harus merusak fasilitas, mengancam kesehatan, dan meresahkan warga sekitar.
Bagaimana pandangan Anda pribadi mengenai batas toleransi antara hiburan rakyat dan kenyamanan lingkungan sekitar dalam kasus sound horeg ini?

